Penting! Apa Saja Tanda-Tanda Kondisi Emosi atau Psikologis Masa Pubertas

Pubertas merupakan masa transisi di mana anak-anak mulai beranjak menuju dewasa. Biasanya, usia pubertas pada anak laki-laki dimulai dari umur 10 sampai dengan 15 tahun. Sementara itu, usia pubertas pada anak perempuan dimulai dari umur 8 sampai dengan 13 tahun.

Pada masa ini, anak-anak akan mengalami berbagai perubahan fisik dan psikis, baik pada laki-laki, maupun perempuan. Sebagai orang tua, kamu perlu mengenali apa saja tanda tanda kondisi emosi atau psikologis masa pubertas pada anak, agar dapat mendampingi masa transisi ini dengan tepat. Yuk, simak penjelasan berikut!

Tanda-tanda Masa Pubertas

Tanda seorang anak telah memasuki masa pubertas yang utama adalah menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki. Di samping itu, terdapat pula ciri-ciri fisik pubertas yang terlihat kasat mata seperti tumbuhnya payudara bagi perempuan atau munculnya jakun pada laki-laki.

Selain ciri-ciri pubertas tersebut, mengenali apa saja tanda-tanda kondisi emosi atau psikologis masa pubertas sangat penting bagi para remaja maupun orang tua yang mendampingi. Apa sajakah itu? 

Tanda-Tanda Kondisi Emosi atau Psikologis Masa Pubertas

  1. Gejolak suasana hati yang tak menentu

Perubahan kondisi emosi atau psikologis masa pubertas tak lepas dari pengaruh lepasnya hormon estrogen dan testosteron yang menandakan penyempurnaan fungsi organ reproduksi pada manusia.

Perubahan drastis hormon-hormon tersebut membuat kondisi emosi atau suasana hati anak menjadi tak menentu, seperti roller coaster! Mereka memiliki semangat besar dan menggebu-gebu, namun di sisi lain, mereka juga menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung.

  1. Pencarian jati diri

Anak-anak yang menyadari bahwa mereka berada pada masa pubertas, akan mulai memikirkan masa depannya. Dengan semangat yang menggebu-gebu, mereka tertarik untuk mencoba segala hal untuk memperkaya pengalaman dan wawasannya.

Hal-hal tersebut dilakukan agar dapat mengenal diri sendiri, dan mendapat gambaran akan menjadi apa ketika menjadi dewasa.

  1. Muncul ketertarikan pada lawan jenis

Adanya perubahan fisik dan hormonal pada masa pubertas memicu rasa ketertarikan pada lawan jenis. Pada masa transisi ini, mereka mulai memperhatikan penampilan seperti berdandan, memadu-padankan pakaian dengan aksesoris tambahan, penggunaan produk kosmetik, dan lainnya.

Pentingnya Peran Orang Tua pada Masa Pubertas Anak

Setelah mengetahui apa saja tanda-tanda kondisi emosi atau psikologis masa pubertas pada anak, tak kalah penting untuk mengetahui bagaimana peran orang tua dalam mendampingi anak yang menginjak masa pubertas.

Wajar bagi orang dewasa menganggap emosi anak-anak pada masa pubertas sangat labil. Namun sebagai orang tua, kamu perlu memahami bahwa perubahan hormonal dan emosional tersebut tidak dimengerti oleh anak-anak, bahkan membuatnya tidak nyaman.

Orang tua perlu hadir, tak hanya secara fisik, namun juga secara psikis untuk mendampingi anak-anak pada masa pubertas. Perubahan emosi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan stress berlebih, bahkan  memicu perilaku agresi di masa mendatang.

Pertama-tama, kamu perlu mengenalkan pendidikan seks sejak dini. Dimulai dari mengenalkan alat kelamin perempuan dan laki-laki dengan nama yang sebenarnya, bagian tubuh mana yang boleh dilihat dan disentuh orang lain, dan sebagainya.

Seiring berjalannya usia, kamu dapat membicarakan ciri-ciri pubertas saat anak akan memasuki usia pubertas. Hal ini dapat membantu anak-anak dalam memahami masa pubertas sehingga dapat lebih mudah beradaptasi. Selain itu, pendidikan seks sejak dini juga berfungsi sebagai bekal remaja dalam menghadapi interaksi sosial di lingkungan pertemanan dan masyarakat. 

Selanjutnya, kamu perlu berperan ganda.  Tak hanya sebagai orang tua, namun kamu harus dapat menempatkan diri sebagai teman. Kamu perlu memvalidasi apa yang dirasakan anak-anak pada masa pubertas.

Selain itu, cobalah untuk mendengarkan cerita tanpa menghakimi terlebih dahulu. Dengan begitu, anak akan merasa dipahami dan lebih terbuka dalam menceritakan semua masalahnya kepadamu.

Di sisi lain, ketegasan orang tua juga masih diperlukan agar anak tetap berada di koridor yang benar. Kamu perlu menegaskan batasan-batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada masa pubertas anak, tentunya dengan tetap memperhatikan cara yang baik dan lembut.

Nah, kini kamu sudah tahu apa saja tanda-tanda kondisi emosi atau psikologis masa pubertas pada anak yang bisa kamu perhatikan. Dengan demikian, kamu bisa lebih mengenal anak kamu yang sudah masuk masa pubertas sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*